MAKALAH TENTANG TEORI ALBERT PIAGET & VYGOTSKY>


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Belajar adalah membangun penafsiran diri terhadap dunia nyata melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi, selanjutnya belajar merupakan proses aktif untuk membangunkan pengetahuan. Kemudian pengajaran juga suatu proses membangunkan pengetahuan dan mengkomunikasikan pengetahuan, sementara belajar terstruktur bukan merupakan suatu tugas, tetapi meminta peserta didik mempergunakan piranti secara aktual dalam situasi dunia nyata dan aktif mempelajari masalah-masalah serta berpikir reflektif. Berpikir reflektif ini menjadi dasar proses konseptualisasi di dalam memahami dan mengaplikasikan pengalaman yang didapat pada situasi dan konteks lain (Yamin, 2011).
Pada dasarnya, penjelasan mengenai bagaimana terjadinya belajar atau bagaimana informasi diproses di dalam pikiran siswa itu disebut teori belajar. Berdasarkan suatu teori belajar, diharapkan suatu pembelajaran dapat lebih meningkatkan perolehan siswa sebagai hasil belajar (Trianto, 2007). Suatu teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar itu sendiri adalah teori belajar kognitif. Belajar tidak hanya melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks.
Menurut teori kognitif, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang individu melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan terpisah-pisah, tetap mengalir, bersambung-sambung, dan menyeluruh. Dalam aliran kognitif, penataan kondisi bukan sebagai menyembah terjadinya belajar, melainkan sekadar memudahkan belajar. Keaktifan individu dalam belajar menjadi unsur yang sangat penting dan menentukan proses belajar. Munculnya cara belajar siswa aktif, keterampilan proses, dan penekanan pada berpikir produktif merupakan bukti bahwa teori telah merambah praktik pembelajaran (Baharuddin, 2009).
Adapun ahli yang mengemukakan tentang teori kognitif adalah Piaget dan Vygotsky. Jean Piaget memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses di mana anak secara aktif membangun sistem makna dan pemahaman realitas melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi mereka. Menurut teori Piaget, setiap individu pada saat tumbuh mulai dari bayi yang baru dilahirkan sampai mengijak usia dewasa mengalami beberapa tahap perkembangan kognitif yang jelas. Sedangkan Lev Vygotsky berkeyakinan bahwa perkembangan tergantung baik pada faktor biologis dan faktor sosial juga sangat penting artinya bagi perkembangan fungsi mental lebih tinggi untuk pengembangan konsep, penalaran logis, dan pengambilan keputusan. Dengan kata lain teori Vygotsky ini lebih menekankan pada aspek sosial dari pembelajaran.
Untuk memahami kedua teori ini lebih lanjut, dalam Makalah ini akan dijelaskan mengenai teori-teori tersebut serta implikasinya terhadap pembelajaran.

1.2.  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam Makalah ini adalah sebagai berikut:
1.  Bagaimana teori belajar kognitif menurut Piaget?
2.  Bagaimana teori belajar kognitif menurut Vygotsky

1.3.  Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan Makalah ini adalah sebagai berikut:
1.  Menjelaskan teori belajar kognitif menurut Piaget
2.  Menjelaskan teori belajar kognitif menurut Vygotsky

1.4.  Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan Makalah ini adalah sebagai berikut:
1.  Bagi penulis, Makalah ini memberikan manfaat yang sangat besar, karena dengan adanya penyusunan Makalah mengenai perkembangan kognitif peserta didik, dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai teori perkembangan kognitif.
2.  Bagi pembaca, Makalah ini dapat memberikan wawasan mengenai teori perkembangan kognitif, sehingga dapat berpartisipasi dalam meningkatkan kemampuan kognitif yang dimilikinya


 
.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1.  Teori Piaget
Teori perkembangan kognitif, dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya skemata tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme. Teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan (http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_perkembangan_kognitif diakses 17 Maret 2012.
Piaget memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses di mana anak secara aktif membangun sistem makna dan pemahaman realitas melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi mereka (Trianto, 2007). Piaget membenarkan bahwa anak-anak memiliki sifat bawaan ingin tahu dan terus berusaha memahami dunia di sekitarnya. Keingin tahuan anak terhadap lingkungan yang dialaminya, ia berusaha mengkontruksikan secara aktif refresentasi-refresentasi dibenaknya tentang lingkungan yang dia alami (Yamin, 2011). Piaget yakin bahwa pengalaman-pengalaman fisik dan manipulasi lingkungan penting bagi terjadinya perubahan perkembangan. Sementara itu bahwa interaksi sosial dengan teman sebaya, khususnya beragumentasi dan berdiskusi membantu memperjelas pemikiran yang akhirnya memuat pemikiran itu menjadi lebih logis.









2.1.1 Proses Terjadi Perkembangan
Pemahaman berkembang semakin dalam dan kuat apabila selalu diuji oleh berbagai macam pengalaman baru. Menurut Piaget, manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya, seperti kotak-kotak yang masing-masing mempunyai makna yang berbeda. Pengalaman yang sama bagi seseorang akan dimaknai berbeda oleh masing-masing individu dan disimpan dalam kotak yang berbeda. Setiap pengalaman baru akan dihubungkan dengan kotak-kotak atau struktur pengetahuan dalam otak manusia (Nurhadi dalam Baharudin dan wahyuni, 2010). Oleh karena itu, pada saat memperoleh pengetahuan menurut Piaget pada saat manusia belajar, sebenarnya dua proses dalam dirinya, yaitu proses organisasi informasi dan proses adaptasi.

1.      Organisasi
Orang lahir dengan kecenderungan untuk mengorganisasikan proses-proses berpikirnya menjadi struktur-struktur psikologis. Struktur-struktur psikologis adalah sistem untuk memahami dan berinteraksi dengan dunia. Struktur-struktur yang sederhana terus-menerus dikombinasikan dan dikoordinasikan satu sama lain agar menjadi struktur yang lebih canggih dan oleh sebab itu juga lebih efektif. Dengan demikian organisasi adalah proses penataan informasi dan pengalaman menjadi berbagai sistem atau kategori mental, yang berlangsung terus menerus (Woolfolk, 2008). Proses organisasi juga dapat diartikan sebagai proses ketika manusia menghubungkan informasi yang diterimanya dengan struktur-struktur pengetahuan yang sudah disimpan atau sudah ada sebelumnya dalam otak. Melalui proses inilah, manusia dapat memahami sebuah informasi baru yang didapatnya dengan menyesuaikan informasi tersebut dengan struktur pengetahuan yang dimilikinya, sehingga manusia dapat mengasimilasikan atau mengakomodasikan informasi atau pengetahuan tersebut (Baharuddin dan wahyuni, 2010).

2.      Adaptasi
Adaptasi adalah penyesuaian terhadap lingkungan. Proses adaptasi berisi dua kegiatan yaitu menggabungkan atau mengintegrasikan pengetahuan yang diterima oleh manusia yang disebut asimilasi dan mengubah struktur pengetahuan yang sudah dimiliki dengan struktur pengetahuan baru, sehingga akan terjadi keseimbangan (equilibrium). Dalam proses adaptasi ini, Piaget mengemukakan empat konsep dasar (Nurhadi, 2004 dalam Baharuddin dan Wahyuni, 2010), yaitu skemata, asimilasi, akomodasi, dan keseimbangan.
a.    Skemata
Piaget menggunakan skema sebagai variabel perantara favoritnya. Skemata adalah cara mempersepsi, memahami, dan berpikir tentang dunia (Hill, 2009). Pikiran harus memiliki suatu skema yang berfungsi melakukan adaptasi dengan lingkungan dan menata lingkungan itu secara intelektual.
Secara sederhana skemata dapat dipandang sebagai kumpulan konsep atau kategori yang digunakan individu ketika ia berinteraksi dengan lingkungan. Skema ini merupakan struktur kognitif yang senantiasa berkembang dan berubah. Proses yang menyebabkan adanya perubahan tersebut adalah asimilasi dan akomodasi.
b.    Asimilasi
Proses asimilasi adalah proses memahami pengalaman-pengalaman baru dari segi skema yang ada (Slavin, 2008). Asimilasi pada dasarnya tidak mengubah skemata, tetapi mempengaruhi pertumbuhan skemata. Asimilasi terjadi secara kontinu dalam perkembangan kehidupan intelektual anak. Dengan demikian, asimilasi merupakan proses kognitif individu dalam usahanya mengadaptasi diri dengan lingkungannya.
c.    Akomodasi
Akomodasi adalah proses pemodifikasian skema yang ada agar sesuai dengan situasi baru (Slavin, 2008). Proses pemodifikasian tersebut menghasilkan terbentuknya skema baru dan berubahnya skema lama. Disini tampak terjadi perubahan kualitatif, sedangkan asimilasi terjadi perubahan kuantitatif. Jadi pada hakikatnya akomodasi menyebabkan terjadinya perubahan atau pengembangan skemata. Sebelum terjadi akomodasi, dalam asimilasi ketika anak menerima stimulus yang baru, struktur mentalnya menjadi goyah atau disebut tidak stabil. Bersamaan terjadinya akomodasi, maka struktur mental tersebut menjadi stabil lagi. Begitu ada stimulus baru lagi, maka struktur mentalnya akan kembali goyah dan selanjutnya setelah terjadi akomodasi akan stabil lagi. Begitulah proses asimilasi dan akomodasi terjadi terus-menerus dan menjadikan manusia berkembang bersama dengan waktu dan bertambahnya pengalaman. Jadi, dalam proses asimilasi stimulus dipaksa untuk memasuki salah satu yang cocok dalam struktur mental individu yang bersangkutan. Sebaliknya, dalam akomodasi individu dipaksa mengubah struktur mentalnya agar cocok dengan stimulus yang baru itu. Dengan kata lain, asimilasi dan akomodasi secara terkoordinasi dan terintegrasi menjadi penyebab terjadinya adaptasi intelektual dan perkembangan struktur intelektual (Baharuddin dan Wahyuni, 2010).
d.   Keseimbangan
Dalam proses adaptasi terhadap lingkungan, individu berusaha untuk mencapai struktur mental yang stabil. Stabil dalam artian adanya keseimbangan antara proses asimilasi dan proses akomodasi. Seandainya hanya terjadi asimilasi secara kontinu, maka yang bersangkutan hanya memiliki beberapa skemata global dan ia tidak mampu melihat perbedaan antara berbagai hal. Sebaliknya, jika hanya akomodasi saja yang terjadi secara kontinu, maka individu akan hanya memiliki skemata yang kecil-kecil saja, dan mereka tidak memiliki skemata yang umum. Individu tersebut tidak akan bisa melihat persamaan-persamaan di antara berbagai hal. Itulah sebabnya, ada keserasian di antara asimilasi dan akomodasi yang oleh Jean Piaget disebut dengan ekuilibrasi.

2.1.2. Tahap Perkembangan Kognitif Menurut Piaget
Selain itu menurut teori Piaget, setiap individu pada saat tumbuh mulai dari bayi yang baru dilahirkan sampai menginjak usia dewasa mengalami empat tingkat perkembangan kognitif. Empat perkembangan kognitif tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.1 Tahap-Tahap Perkembangan Kognitif Piaget
Tahap
Perkiraan Usia
Kemampuan-Kemampuan Utama
Sensorimotor
Lahir sampai 2 tahun
Terbentuknya konsep “kepermanenan obyek” dan kemajuan gradual dari perilaku refleksif ke perilaku yang mengarah kepada tujuan.
Pra-operasional
2 sampai 7 tahun
Perkembangan kemampuan menggunakan simbol-simbol untuk menyatakan obyek-obyek dunia. Pemikiran masih egosentris dan sentrasi.
Operasi konkrit
7 sampai 11 tahun
Perbaikan dalam kemampuan untuk berpikir secara logis. Kemampuan-kemampuan baru termasuk yang penggunaan operasi-operasi yang dapat balik. Pemikiran tidak lagi sentrasi tetapi desentrasi, dan pemecahan masalah tidak begitu dibatasi oleh keegosentrisan.
Operasi formal
11 tahun sampai dewasa
Pemikiran abstrak dan murni simbolis mungkin dilakukan. Masalah-masalah dapat dipecahkan melalui eksperimentasi sistematis.
Berdasarkan tingkat perkembangan kognitif Piaget ini, sebagai contoh untuk peserta didik pada rentang usia 11-15 tahun berada pada taraf perkembangan operasi formal. Pada usia ini yang perlu dipertimbangkan adalah aspek-aspek perkembangan remaja. Di mana remaja mengalami tahap transisi dari penggunaan operasi formal dalam bernalar (Trianto, 2007).
1. Tahap Sensori Motor
Pada tahap sensori motor, gagasan anak mengenai suatu benda berkembang dari periode “belum mempunyai gagasan” sampai dengan “sudah punya gagasan akan adanya suatu benda” Gagasan mengenai benda sangat berkaitan dengan konsep anak tentang ruang dan waktu yang juga belum terkoordinir dengan baik. Perkembangan pikiran anak pada tahap ini dimulai dengan reaksi refleks anak terhadap rangsangan dari luar. Anak mengatur alam dengan indera-inderanya (sensori) dan tindakan-tindakannya (motor).
Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman penting dalam enam sub-tahapan:
  1. Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
  2. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
  3. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
  4. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai dua belas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
  5. Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
  6. Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.

2. Tahap Pra Operasionall
Sedangkan tahap Pra-operasional adalah tahap antara 2 sampai 7 tahun. Periode ini disebut Pra-operasional, karena pada umur ini individu belum mampu melaksanakan operasi-operasi mental. Tahap Pra- operasional terdiri atas dua sub operasional yaitu sub operasional pertama antara 2 sampai 4 tahun yang disebut pra logis dan sub operasional kedua ialah 4 sampai 7 tahun yang disebut tahap berfikir intuitif yaitu persepsi langsung terhadap dunia luar tetapi tanpa dinalar lebih dulu. Pemikiran pra-operasional dapat dibagi menjadi sub-sub tahapan, yaitu:
1.    Fungsi Simbolik
Pada tahap ini, anak meraih kemampuan untuk mewakili objek yang tak terlihat secara mental.
2.    Pemikiran intuitif
Anak mulai mempraktekkan penaran primitif dan ingin mengetahui jawaban dari berbagai pertanyaan.

3. Tahap Operasional Konkrit
Tahap operasional konkrit yaitu tahap 7 sampai 11 tahun. Tahap ini merupakan permulaan berfikir rasional yaitu memiliki perkembangan sistem pemikiran yang didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis, namun tahap operasi konkrit tetap ditandai dengan adanya system operasi berdasarkan apa-apa yang kelihatan nyata/ konkrit. Anak masih menerapkan logika berfikir pada barang-barang yang konkrit, belum bersifat abstrak apalagi hipotesis sehingga mereka masih punya kesulitan untuk memecahkan persoalan yang mempunyai banyak variable.

4. Tahap Operasinal Formal
Tahap perkembangan kognitif yang terakhir yaitu tahap operasional Formal yaitu antara 11 tahun keatas. Pada periode ini anak sudah dapat menggunakan operasi-operasi konkretnya untuk membentuk operasi-operasi yang lebih komplek atau sudah dapat berfikir abstrak. Berfikir operasional formal memungkinkan siswa untuk mempunyai tingkah laku discovery-inquiry yang betul-betul ilmiah, serta memungkinkan untuk mengajukan hipotesis variabel-variabel tergantung yang mungkin ada. Berfikir abstrak atau formal operasional ini merupakan cara berfikir yang bertalian dengan hal-hal yang tidak langsung dapat dilihat.

2.1.3 Implikasi-Implikasi dari Pendidikan
Bagi Piaget, belajar yang sebenarnya bukan sesuatu yang diturunkan oleh guru, melainkan sesuatu yang berasal dari dalam diri anak sendiri. Belajar merupakan sebuah proses penyelidikan dan penemuan spontan. Karena itu, seorang guru tidak semestinya memaksakan pengetahuan kepada anak-anak, melainkan harus menemukan materi-materi pelajaran yang bisa menarik dan menantang anak untuk belajar dan kemudian membiarkan mereka menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan cara mereka sendiri. Prinsip ini menyesuaikan pendidikan dengan tahap perkembangan anak merupakan sebuah self evident.
Tugas-tugas perkembangan Piaget menyatakan bahwa anak-anak berkembang dan bergerak lewat sub tahapan, tahapan dan periode dalam sebuah keteraturan. Pentahapan Piaget atas operasi berpikir konkret memiliki nilai yang sangat potensial, dan jelas membutuhkan pengerjaan kembali secara serius. Pentahapan Piaget terlalu berharga untuk diabaikan dalam berbagai bidang kehidupan.
Jadi, pandangan Piaget terhadap pendidikan adalah bahwa pendidikan hanya menyempurnakan keahlian kognitif anak yang telah muncul sebelumnya. Sedangkan implikasi pengajaran yang diterima adalah guru adalah fasilitator dan pembimbing bukan direktur, memberikan dukungan kepada anak untuk mengeksplorasi dunia dan menemukan pengetahuan.

2.2.  Teori Vygotsky
Vygotsky memberikan pandangan berbeda dengan Piaget terutama pandangannya tentang pentingnya faktor sosial dalam perkembangan anak. Vygotsky memandang pentingnya bahasa dan orang lain dalam dunia anak-anak. Meskipun Vygotsky dikenal sebagai tokoh yang memfokuskan kepada perkembangan sosial yang disebut sebagai sosiokultural, dia tidak mengabaikan individu atau perkembangan kognitif individu.
Vygotsky berpendapat bahwa siswa membentuk pengetahuan sebagai hasil dari pikiran dan kegiatan siswa melalui bahasa. “Perkembangan pengetahuan pada siswa tergantung pada faktor biologi (memori, atensi, persepsi, stimulus-respon) dan faktor sosial (fungsi mental yang lebih tinggi) untuk pengembangan konsep, penalaran logis dan pengambilan keputusan” (Trianto, 2007). Teori pembelajaran Vygotsky sangat menekankan pentingnya peran interaksi sosial bagi perkembangan belajar seseorang.
Menurut Vygotsky, belajar adalah sebuah proses yang melibatkan dua elemen penting. Pertama, belajar merupakan proses secara biologi sebagai proses dasar. Kedua, proses secara psikologisial sebagai proses yang lebih tinggi dan essensinya berkaitan dengan lingkungan sosial budaya. Sehingga, lanjut Vygotsky, munculnya perilaku seseorang adalah karena intervening kedua elemen tersebut. Pada saat seseorang mendapatkan stimulus dari lingkungannya, ia akan menggunakan fisiknya berupa alat inderanya untuk menangkap atau menyerap stimulus tersebut, kemudian dengan menggunakan saraf otaknya informasi yang telah diterima tersebut diolah. Keterlibatan alat indera dalam menyerap stimulus dan saraf otak dalam mengelola informasi yang diperoleh merupakan proses secara fisik-psikologi sebagai elemen dasar dalam belajar.
Pengetahuan yang telah ada sebagai hasil dari proses elemen dasar ini akan lebih berkembang ketika mereka berinteraksi dengan lingkungan sosial budaya mereka. Oleh karena itu, Vygotsky sangat menekankan pentingnya peran interaksi sosial bagi perkembangan belajar seseorang. Vygotsky percaya bahwa belajar dimulai ketika seorang anak dalam perkembangan zone proximal, yaitu suatu tingkat yang dicapai oleh seorang anak ketika ia melakukan perilaku sosial. Zona ini juga dapat diartikan sebagai seorang anak yang tidak dapat melakukan ssuatu sendiri tetapi memerlukan bantuan kelompok atau orang dewasa. Dalam belajar, zone proximal ini dapat dipahami sebagi selisih antara apa yang bisa dikerjakan seseorang dengan kelompoknya atau dengan bantuan orang dewasa. Maksimalnya perkembangan zone proximal ini tergantung pada intensifnya interaksi antara sseorang dengan lingkungan sosial.
Menurut Vygotsky, fungsi mental tingkat tinggi biasanya ada dalam percakapan atau komunikasi dan kerja sama  di antara individu-individu (proses sosialisasi) sebelum akhirnya itu berada dalam diri individu (internalisasi). Oleh karena itu, pada saat seseorang berbagi pengetahuan dengan orang lain, dan akhirnya pengetahuan itu menjadi pengetahuan personal, disebut dengan private speech. Di sini, Vygotsky ingin menjelaskan bahwa adanya kesadaran sebagai akhir dari sosialisasi tersebut. Dalam belajar bahasa, misalnya ucapan pertama kita dengan orang lain adalah bertujuan untuk komunikasi, akan tetapi sekali kita menguasainya, ucapan atau bahasa itu akan terinternalisasi dalam diri kita dan menjadi inner speech atau private speech. Private speech ini dapat diamati saat seorang anak sering berbicara dengan dirinya sendiri, terutama jika ia dihadapkan dengan tugas-tugas sulit. Namun demikian, sebagaimana studi-studi dilakukan, anak-anak yang sering menggunakan private speech ketika menghadapi tugas-tugas yang kompleks ini lebih efektif memecahkan tugas-tugas daripada anak-anak yang kurang menggunakan private speech.
Ide dasar lain dari teori belajar Vygotsky adalah scaffolding. Scaffolding adalah memberikan dukungan dan bantuan kepada seorang anak yang sedang pada awal belajar, kemudian sedikit demi sedikit mengurangi dukungan atau bantuan tesebut setelah anak mampu memecahkan problem dari tugas yang dihadapinya. Ini ditujukan agar anak dapat belajar mandiri (Baharuddin dan Wahyuni, 2010).
Berbeda dari Piaget, Vygotsky berpendapat bahwa perkembangan kognitif sangat terkait dengan masukan dari orang-orang lain. Namun sama seperti Piaget, Vygotsky percaya bahwa perolehan sistem-sistem tanda terjadi dalam urutan langkah-langkah tetap yang sama untuk semua anak.

2.2.1 Proses Terjadi Perkembangan
2.2.1    1.Konsep Sosiokultural
Teori Vygotsky menawarkan suatu potret perkembangan manusia sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. Vygotsky menekankan bagaimana proses-proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian, dan penalaran melibatkan pembelajaran menggunakan temuan-temuan masyarakat seperti bahasa, sistem matematika, dan alat-alat ingatan. Ia juga menekankan bagaimana anak-anak dibantu berkembang dengan bimbingan dari orang-orang yang sudah terampil di dalam bidang-bidang tersebut. Penekanan Vygotsky pada peran kebudayaan dan masyarakat di dalam perkembangan kognitif berbeda dengan gambaran Piaget tentang anak sebagai ilmuwan kecil yang kesepian.
Piaget memandang anak-anak sebagai pembelajaran lewat penemuan individual, sedangkan Vygotsky lebih banyak menekankan peranan orang dewasa dan anak-anak lain dalam memudahkan perkembangan si anak. Menurut Vygotsky, anak-anak lahir dengan fungsi mental yang relatif dasar seperti kemampuan untuk memahami dunia luar dan memusatkan perhatian. Namun, anak-anak tidak banyak memiliki fungsi mental yang lebih tinggi seperti ingatan, berfikir dan menyelesaikan masalah. Fungsi-fungsi mental yang lebih tinggi ini dianggap sebagai ”alat kebudayaan” tempat individu hidup dan alat-alat itu berasal dari budaya. Alat-alat itu diwariskan pada anak-anak oleh anggota-anggota kebudayaan yang lebih tua selama pengalaman pembelajaran yang dipandu. Pengalaman dengan orang lain secara berangsur menjadi semakin mendalam dan membentuk gambaran batin anak tentang dunia. Karena itulah berpikir setiap anak dengan cara yang sama dengan anggota lain dalam kebudayaannya.
Vygotsky menekankan baik level konteks sosial yang bersifat institusional maupun level konteks sosial yang bersifat interpersonal. Pada level institusional, sejarah kebudayaan menyediakan organisasi dan alat-alat yang berguna bagi aktivitas kognitif melalui institusi seperti sekolah, penemuan seperti komputer, dan melek huruf. Interaksi institusional memberi kepada anak suatu norma-norma perilaku dan sosial yang luas untuk membimbing hidupnya. Level interpersonal memiliki suatu pengaruh yang lebih langsung pada keberfungsian mental anak. Menurut Vygotsky (1962), keterampilan-keterampilan dalam keberfungsian mental berkembang melalui interaksi sosial langsung. Informasi tentang alat-alat, keterampilan-keterampilan dan hubungan-hubungan interpersonal kognitif dipancarkan melalui interaksi langsung dengan manusia. Melalui pengorganisasian pengalaman-pengalaman interaksi sosial yang berada di dalam suatu latar belakang kebudayaan ini, perkembangan mental anak-anak menjadi matang 
2.2.1.2.Zone Perkembangan Proksima 
Zona perkembangan proksimal adalah istilah Vygotsky untuk rangkaian tugas yang terlalu sulit dikuasai anak seorang diri tetapi dapat dipelajari dengan bantuan dan bimbingan orang dewasa atau anak-anak terlatih. Batas bawah dari ZPD dinamakan aktual development yaitu tingkat keahlian yang dimiliki anak yang bekerja secara mandiri. Batas atas dinamakan potensial development yaitu tingkat tanggung jawab tambahan yang dapat diterima oleh anak dengan bantuan seorang instruktur (http://kompasiana.com/post/2011/01/01/teori-piaget-dan-vygotsky/ diakses 17 Maret 2012).






Dengan demikian, menurut teori Vygotsky, Zona Perkembangan Proksimal merupakan jarak antara actual development dan potential development yakni daerah tingkat perkembangan sedikit di atas daerah perkembangan seseorang saat ini (Trianto, 2007). Vygotsky percaya pembelajaran terjadi ketika anak-anak bekerja dalam zona perkembangan proksimal mereka. Tugas-tugas dalam ZPT tersebut adalah sesuatu yang belum dapat dikerjakan seorang anak sendirian, tetapi masih membutuhkan bantuan teman atau orang dewasa yang lebih kompeten. Tingkat perkembangan yang dimaksud terdiri atas empat tahap seperti diperlihatkan oleh gambar berikut:


Tahapan Perkembangan dari tahap kapasitasnya mulai berfungsi hingga masa perkembangan lanjutan
Pertama, more dependence to others stage, yakni tahapan di mana kinerja anak mendapat banyak bantuan dari pihak lain seperti teman-teman sebayanya, orang tua, guru, masyarakat, ahli, dan lain-lain. Dari sinilah muncul model pembelajaran kooperatif atau kolaboratif dalam mengembangkan kognisi anak secara konstruktif.
Kedua, less dependence external assistence stage, di mana kinerja anak tidak lagi terlalu banyak mengharapkan bantuan dari pihak lain, tetapi lebih kepada self assistance, lebih banyak anak membantu dirinya sendiri.
Ketiga, Internalization and automatization stage, di mana kinerja anak sudah lebih terinternalisasi secara otomatis. Kasadaran akan pentingnya pengembangan diri dapat muncul dengan sendirinya tanpa paksaan dan arahan yang lebih besar dari pihak lain. Walaupun demikian, anak pada tahap ini belum mencapai kematangan yang sesungguhnya dan masih mencari identitas diri dalam upaya mencapai kapasitas diri yang matang.
Keempat, De-automatization stage, di mana kinerja anak mampu mengeluarkan perasaan dari kalbu, jiwa, dan emosinya yang dilakukan secara berulang-ulang, bolak-balik, recursion. Pada tahap ini, keluarlah apa yang disebut dengan de automatisation sebagai puncak dari kinerja sesungguhnya. http://bk2009.files.wordpress.com/2011/01/teori-perkembangan-kognitif-vygotsky.doc diakses 17 Maret 2012.
Dengan demikian dalam proses untuk mencapai pemahaman pada mulanya anak diberikan bantuan/bimbingan untuk mencapai perkembangan yang optimal, setelah itu secara bertahap bantuan itu dikurangi sampai akhirnya tidak diberikan sama sekali, sehingga anak secara independen dapat memahami apa yang mereka pelajari. (http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/01/perbedaan-perkembangan-kognitif-menurut-piaget-dan-vygotsky/ diakses 17 Maret 2012)

2.2.1   3.Konsep Scaffolding
Scaffolding adalah memberikan dukungan dan bantuan kepada seorang anak yang sedang pada awal belajar, kemudian sedikit demi sedikit mengurangi dukungan atau bantuan tesebut setelah anak mampu memecahkan problem dari tugas yang dihadapinya (Baharuddin dan Wahyuni, 2010). Scaffolding merupakan suatu istilah yang ditemukan oleh seorang ahli psikologi perkembangan-kognitif masa kini, Jerome Bruner, yakni suatu proses yang digunakan orang dewasa untuk menuntun anak-anak melalui zona perkembangan proksimalnya (http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/28/teori-kognitif-menurut-piaget-dan-vigotsky/ di akses 17 Maret 2012).
Dialog adalah alat yang penting dalam ZPD. Vygotsky memandang anak-anak kaya konsep tetapi tidak sistematis, acak, dan spontan. Dalam dialog, konsep-konsep tersebut dapat dipertemukan dengan bimbingan yang sistematis, logis, dan rasional.
2.2.1  4.Bahasa dan Pemikiran
Menurut Vygotsky, bahasa berkembang dari interaksi sosial dengan orang lain. Vygotsky berpendapat bahwa anak menggunakan pembicaraan bukan saja untuk komunikasi sosial, tetapi juga untuk membantu mereka menyelesaikan tugas. Lebih jauh Vygotsky yakin bahwa anak pada usia dini menggunakan bahasa untuk merencanakan, membimbing, dan memonitor perilaku mereka. Pada tahap pra operasional, ketika anak belajar menggunakan bahasa untuk menyelesaikan masalah, mereka berbicara lantang sembari menyelesaikan masalah. Sebaliknya, begitu menginjak tahap operasional konkret, percakapan batiniah tidak terdengar lagi.
Vygotsky mengatakan bahwa bahasa dan pikiran pada awalnya berkembang terpisah dan kemudian menyatu. Anak harus menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain sebelum mereka dapat memfokuskan ke dalam pikiran-pikiran mereka sendiri. Anak juga harus berkomunikasi secara eksternal dan menggunakan bahasa untuk jangka waktu yang lama sebelum mereka membuat transisi dari kemampuan bicara eksternal menjadi internal. (http://kompasiana.com/post/2011/01/01/teori-piaget-dan-vygotsky/ diakses 17 Maret 2012).
2.2.2 Implikasi bagi Pembelajaran
Pandangan Vygotsky terhadap pendidikan adalah pendidikan memegang peranan penting dalam membantu anak mempelajari alat-alat budaya. Teori-teori pendidikan Vygotsky mempunyai dua implikasi utama teori pembelajarannya yaitu: 
1.      Menghendaki setting kelas kooperatif, sehingga siswa dapat saling berinteraksi dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efekif dalam masng-masing zone of proximal development mereka.
2.      Pendekatan Vygotsky dalam pembelajaran dalam menekankan scaffolding. Jadi teori belajar vigotsky adalah salah satu teori belajar sosial sehingga sangat sesuai dengan model pembelajaran kooperatif karena dalam model pembelajaran kooperatif terjadi interaktif social yaitu interaksi antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru dalam usaha menemukan konsep-konsep dan pemecahan masalah.
Pengaruh karya Vygotsky bersama Burner terhadap dunia pengajaran dijabarkan oleh Smith :
  1. Walaupun Vygotsky dan Burner telah mengusulkan peranan yang lebih penting bagi orang dewasa dalam pembelajaran anak-anak dari pada peran yang diusulkan Peaget, keduanya tidak mendukung pengajaran diaktivis diganti sepenuhnya. Sebaliknya mereka malah menyatakan walaupun anak dilibatkan dalam pembelajaran aktif, guru harus aktif mendampingi setiap kegiatan anak-anak. Dalam istilah teoristis ini berarti anak-anak bekerja dalam zona perkembangan proksimal dan guru menyediakan scaffolding bagi anak.
  2. Secara khusus Vygotsky mengemukakan bahwa disamping guru, teman sebaya juga berpengaruh pada perkembangan kognitif anak. Berlawanan dengan pembelajaran lewat penemuan individu (individual discovery learning) kerja kelompok secara kooperatif tampaknya mempercepat perkembangan anak.
  3. Gagasan tentang kelompok kerja kreatif ini diperluas menjadi pengajaran pribadi oleh teman sebaya, yaitu seorang anak mengajari anak lainnya yang agak tertinggal didalam pelajaran. Foot et al, menjelaskan pengajaran oleh teman sebaya ini dengan menggunakan teori vygotsky. Satu anak bisa lebih efektif membimbing anak lainnya melewati ZPD karena mereka sendiri baru saja melewati tahap itu sehingga bisa dengan mudah melihat kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak lain dan menyediakan scaffolding yang sesuai.
Komputer juga dapat digunakan untuk meningkatkan pembelajaran dalam berbagai cara. Dalam prespektif pengikut vygotsky - bruner, perintah-perintah dilayar komputer merupakan scaffolding. Ketika anak menggunakan perangkat lunak atau software pendidikan, komputer menggunakan bantuan atau petunjuk scara detail seperti yang diisyaratkan sesuai kedudukan anak dalam ZPD. Tidak dipungkiri lagi beberapa anak dikelas lebih terampil dalam menggunakan computer sebagai tutor bagi teman sebayanya. Dengan murid-murid yang bekerja dengan komputer guru bisa bebas mencurahkan perhatiannya kepada individu-individu yang memerlukan bantuan dan menyiapkan scaffolding yang sesuai bagi masing-masing anak. (http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/28/teori-kognitif-menurut-piaget-dan-vigotsky/  di akses 17 Maret 2012).
Teori pembelajaran Vygosky juga dapat kita gunakan sebagai salah satu teori di dalam model cooperative learning.
Menurut Suparno (1997), pembelajaran merupakan suatu per-kembangan pengertian. Dia membedakan adanya dua pe-ngertian pembelajaran yaitu, yang spontan dan yang ilmiah. Pengertian spontan adalah pengertian yang didapati secara terus dan pengalaman siswa didapati dalam kehidupan seharian. Pengertian ilmiah adalah pengertian yang diperoleh di sekolah. Selanjutnya, Suparno (1997) mengatakan kedua-dua konsep itu saling berkaitan terus menerus. Apa yang dihadapi siswa di sekolah mempengaruhi perkembangan konsep yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari dan sebaliknya.
Sumbangan teori Vygotsky adalah penekanan pada bakat sosio budaya dalam pembelajaran. Menurutnya, pembelajaran terjadi ketika siswa bekerja dalam zona perkembangan proksimal (zone of proximal development). Zona perkembangan proksimal adalah tingkat perkembangan sedikit di atas tingkat perkembangan seseorang pada ketika pembelajaran berlaku?
Astuty (2000) secara terperinci, mengemukakan bahwa yang dimaksudkan dengan “zona perkembangan proksimal” adalah jarak antara tingkat per-kembangan sesungguhnya dengan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan sesungguhnya adalah kemampuan pemecahan masalah secara mandiri sedangkan tingkat per-kembangan potensial adalah kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa melalui kerja sama dengan rakan sebaya yang lebih mampu. Oleh yang  demikian, maka tingkat perkembangan potensial dapat disalurkan melalui model pembelajaran koperatif. Ide penting lain juga diturunkan Vygotsky ialah konsep pemenaraan (scaffolding) (Nur 2000), yaitu memberikan sejumlah bantuan kepada siswa pada tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian menguranginya dan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengambil alih tanggung jawab sekadar yang  mereka mampu. Bantuan tersebut berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah pada langkah-langkah pemecahan, memberi contoh ataupun hal-hal lain yang memungkinkan siswa tumbuh kendiri.
Dalam teori Vygotsky dijelaskan bahwa ada hubungan secara langsung antara domain kognitif dengan sosio budaya. Kualiti berfikir siswa dibina dan aktivitas sosial siswa di dalam bilik darjah, dikembangkan dalam bentuk kerja sama antara siswa dengan siswa lainnya yang lebih mampu di bawah bimbingan orang dewasa dan guru.
Masih menurut Vygotsky, dengan melibatkan anak berdiskusi dan berfikir (reasoning) dalam mempelajari segala kejadian, akan mendorong anak untuk merefleksikan apa yang telah dikatakan atau diperbuatnya. Hal ini dapat menjadi “inner speech” atau “inner dialogue”, dialog dengan dirinya sendiri. Ini proses awal bagi anak untuk mengetahui tentang dirinya sendiri.
Selanjutnya, dikemudian hari ia akan mampu mengevaluasi diri, menganalisis kekurangan serta kekuatan yang dimilikinya. Dengan terbiasa melibatkan anak diskusi, akan membantu anak untuk bisa berfikir pada tahapan yang lebih tinggi atau meta-cognition. Proses seperti ini dapat membuatnya menjadi manusia spiritual, yaitu manusia yang tahu siapa dirinya, dan mempunyai kesadaran bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat, komunitas dan alam semesta. http://bk2009.files.wordpress.com/2011/01/teori-perkembangan-kognitif-vygotsky.doc diakses 17 Maret 2012.
Sedangkan implikasi pengajaran yang diterima adalah guru berfungsi fasilitator dan pembimbing dalam pembelajaran bukan direktur, sehingga seyogyanya membuat banyak kesempatan bagi anak untuk belajar dengan guru dan teman sebaya yang lebih terampil.



 


Tes Wawasan Kebangsaan ( TWK )

Berikut 10 ( Sepuluh ) Contoh Soal Tes Wawasan Kebangsaan. 1. Saling menghormati dan tidak membeda- bedakan manusia berdasarkan suku...